Vheya’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

EASTER

Hari-hari ini ada rasa syukur dan suka cita yang mewarnai langkah-langkah perjalanan hidup umat Kristiani. Betapa tidak, Dua hari raya gerejawi: Jumat Agung (Kematian Yesus Kristus) dan Paskah (Kebangkitan Yesus Kristus) diperingati umat Kristiani pada 29 Maret dan 31 Maret 2002.

Kedua perayaan itu terjadi secara berangkai pada hari Jumat dan Minggu yang memiliki makna amat signifikan bahkan determinan dalam konteks kekristenan. Kedua perayaan itu tanpa mengecilkan yang lain menjadi penentu, menjadi mahkota dari perayaan-perayaan keagamaan kristiani yang lain. Kedua perayaan itu menjadi amat unik dan spesifik yang tak pernah bisa dicari paralel dan analoginya dalam kehidupan sekular.

Kita patut bersyukur bahwa hari Jumat Agung dan hari Minggu telah lama dijadikan hari libur nasional sehingga umat kristiani memiliki keleluasaan untuk melaksanakan ibadah pada hari-hari tersebut.

Umat Kristiani Indonesia meyakini bahwa kondisi itu akan tetap berlangsung selamanya di semua wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai implementasi tanggung jawab dan jaminan negara bagi warganya untuk mewujudkan keberagamaannya secara utuh dan konsisten. Bahwa kedua peristiwa itu semata-mata merupakan suatu rancangan Allah, suatu skenario dari kuasa transenden adalah hal yang tak bisa dipungkiri.

Para murid Yesus sendiri sebagai the inner circle yang setiap saat berjalan mengiring Yesus ternyata tidak siap dan tidak mengerti tentang dua peristiwa itu. Karena itu, mereka tidak mampu memahami terminologi yang digunakan Yesus, mereka tak bisa menangkap dengan tepat idiom-idiom yang diungkap Yesus.

Hal itu terjadi bukan saja karena ada kesenjangan pemikiran di antara Yesus dengan para murid, tetapi karena ada asumsi-asumsi tertentu yang dimiliki para murid tentang Yesus dan pelayanannya yang tidak pas.

Tatkala Yesus bicara soal Kerajaan Allah misalnya para murid dan keluarga mereka membayangkan Yesus akan mendirikan suatu kerajaan seperti di zaman Daud dan mereka sebagai the inner circle mengharapkan mendapat kursi empuk dalam kerajaan itu. Dalam konteks itulah Yakobus dan Johannes mengajukan permintaan, agar mereka dapat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kerajaan yang akan Yesus dirikan (Matius 20:20,21; Markus 10:36,37).

Masyarakat bahkan para murid juga tidak mampu menangkap dengan tepat makna yang terkandung dalam istilah Kerajaan Allah. Mereka terjebak pada pemahaman-pemahaman yang lebih berdimensi politik, sehingga mereka, para murid saling mencari muka di depan Yesus dengan harapan akan mendapat jabatan basah di kemudian hari.

Itulah sebabnya, ketika Yesus menyatakan akan menderita sengsara, mati, dan bangkit, para murid tidak mau mengerti bahkan menolak hal itu. Mereka ingin Yesus tetap berada di gunung kemuliaan, bahkan melarang Yesus turun ke lembah penderitaan di Yerusalem (Matius 17:4; Markus 9:5; Lukas 9:33).

Gelombang pemikiran Yesus tidak sama dengan gelombang pemikiran para murid. Yesus memarahi Petrus dengan amat keras ketika Petrus merespons dengan negatif informasi Yesus bahwa ia akan menderita (Markus 8:33). Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus berada di luar kategori pemikiran para murid. Mereka menolak Yesus yang menderita, mereka panik ketika Yesus mati, mereka tidak solid, mereka tercerai-berai karena pemahaman mereka tentang Yesus dan misi-Nya amat lemah, dangkal dan sumir.

Kebersamaan mereka secara fisik ternyata tidak menjamin luasnya wawasan mereka tentang Yesus. Mereka lebih terfokus pada keuntungan/profit apa yang akan mereka terima sebagai murid Yesus; bukan pada nilai-nilai luhur yang dipresentasi Yesus melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Mereka terjebak menjadi pengikut dan murid yang simbolis dan formalistis, tidak menjadi murid yang mampu memancarkan dan membagi misi Yesus ke spektrum yang lebih luas.

Hari-hari ini tatkala gereja-gereja dan umat Kristiani memasuki hari Jumat Agung dan Paskah, adalah saat yang amat tepat untuk merenung-ulangi arti hakiki peristiwa itu serta menimba makna aktual bagi kekinian zaman.

Peringatan Jumat Agung dan Paskah akan terjatuh menjadi suatu seremoni dan selebrasi tanpa makna, bahkan nilai-nilai sakral dan transendentalnya akan tereduksi, jika pemahaman kontemporer dari kedua hari raya itu tidak mendapat ruang.

Ada beberapa hal substansial yang mesti digarisbawahi ketika kita memperingati Jumat Agung dan Paskah. Pertama, gereja-gereja di Indonesia harus menjadi “gereja bagi orang lain”; gereja yang menderita dan solider dengan umat manusia yang terkapar di pinggir-pinggir kehidupan.

Gereja tidak boleh menjadi gereja yang hidup bagi dirinya sendiri, gereja yang introvert dan eksklusif; gereja yang teralienasi dari konteksnya; yang tercerabut dari dunia sekitar.

Kedua, Gereja dan persekutuan Kristiani harus mampu menampilkan kekristenan otentik yang melaluinya ajaran Yesus Kristus tentang cinta kasih, perdamaian, kejujuran, pengorbanan, pengampunan, pembebasan direfleksikan dalam tindak nyata. Gereja harus menanggalkan kekristenan simbolis dan formalistis kekristenan yang mandul, apatis dan non-kontributif.

Dengan cara itu kredibilitas dan akuntabilitas gereja memberi makna bagi dunia.

Ketiga, Gereja dan persekutuan kristiani harus benar-benar menjadi gereja yang bangkit, yang mampu membangkitkan dan mencerahkan umat serta masyarakat, sehingga mereka dapat menatap dengan mantap keakanan yang disediakan Allah dalam Kristus.

Paskah adalah kebangkitan yang membangkitkan. Gereja dan umat Kristiani Indonesia harus berani menjadi persetukuan yang bangkit, yang dinamis, yang membangkitkan harapan umat dan yang mengarahkan seluruh umat manusia menuju jalan damai sejahtera.

Tanpa itu, Paskah tak lebih dari suatu selebrasi tanpa makna!

March 6, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: